Belajar Intelijen: Deteksi Aliran Radikal » INTELIJEN INDONESIA

Friday, June 02, 2017

Belajar Intelijen: Deteksi Aliran Radikal

Sumber gambar : Saudi Gazette

Kita sering mendengar, melihat, dan membaca berita tentang aliran radikal, baik yang berdasarkan agama maupun ideologi tertentu di media massa elektronik dan cetak. Kita juga sering mendengar terjadinya radikalisasi yang kemudian mengarah pada aksi-aksi terorisme. Apapun sebutannya, kelompok radikal, kelompok garis keras, ataupun kelompok teroris, hanya satu kesamaannya yakni pada aspek "pemaksaan kehendak" yang diiringi oleh kekerasan. Meskipun cita-cita kelompok radikal mungkin sesuatu yang ideal berdasarkan keyakinan kelompok tersebut, namun ketika cara mewujudkannya dengan menggunakan pemaksaan dan aksi kekerasan, maka sah dapat dikatakan kelompok tersebut radikal. Lalu bagaimana kita masyarakat biasa dapat mendeteksinya?

Berikut ini beberapa tips sederhana untuk kita pahami dan dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendeteksi adanya aliran radikal di lingkungan kita masing-masing. Tips deteksi aliran radikal ini berdasarkan kepada pengalaman jaringan Blog I-I yang selama bertahun-tahun hidup bersama berbagai aliran-aliran radikal yang tumbuh subur di Indonesia.


  1. Ciri pertama dari aliran radikal adalah eksklusif dengan keanggotaan kelompok baik yang ditandai dengan adanya sumpah setia (bai'at) kepada pimpinan atau guru. Bai'at tersebut seringkali tidak seperti sumpah setia kepada aliran atau kelompok, melainkan dibungkus dengan kesetiaan kepada Allah dan Rasul SAW dan kemudian diujungnya baru diikat dengan keta'atan kepada pimpinan kelompok. Bagi anda yang lemah dan kurang pengetahuan agama serta lemah secara psikologis (kurang percaya diri) akan mudah diikat oleh model sumpah seperti itu. Meskipun secara prinsip agama tampak tidak menyimpang, namun ada upaya pengendalian pengikut melalui indoktrinasi kepatuhan kepada pimpinan kelompok yang sangat kuat mengikat anda bila terjerumus ke dalam kelompok radikal. Itulah sebabnya aliran radikal cenderung eksklusif tertutup karena bila terbuka tanpa ikatan sumpah setia, proses radikalisasi anggota menjadi sulit. Pada masjid-masjid dan pengajian yang terbuka dapat dihadiri siapa saja, sangat jarang terjadi proses radikalisasi karena pasti diantara jamaah masjid atau pengajian ada yang kritis atau bahkan berilmu agama yang baik, akibatnya ajaran-ajara radikal tidak dapat disampaikan secara terbuka. Apabila di lingkungan anda terdeteksi ada pengajian yang sifatnya tertutup khusus anggota, perlu anda mulai waspada. Karena kemungkinan pengajian tersebut mengajarkan radikalisme atau mungkin juga sekedar penipuan untuk menyerap dana dari masyarakat. Sungguh bahwa ajaran Islam yang lurus tidak perlu disampaikan secara sembunyi-sembunyi, apalagi dengan mengikat sumpah setia dari umat Islam kepada guru atau pimpinan. Model bai'at juga sering kita temui dalam pengajian-pengajian sufi atau kebathinan, namun pengajian sufi ini akan segera terlihat bahwa bai'at yang dilakukan bukan dalam rangka pengendalian anggota melainkan dalam rangka menciptakan pengkhidmatan atau penghormatan murid kepada guru yang menjadi pembimbing spiritualnya. Selain itu, pengajian sufi lebih banyak diisi oleh pengajaran dan kegiatan mengingat Allah SWT dan ibadah (melihat ke dalam dan introspeksi), sedangkan pengajian yang mengajarkan radikalisme akan lebih banyak melihat ke luar (menilai keadaan sosial politik secara kritis) dan berdiskusi bagaimana merubah keadaan sosial politik yang dianggap tidak Islam menjadi Islam.
  2. Ciri kedua adalah pada penanaman simbol-simbol agama yang bertujuan memantapkan sikap keagamaan sebagaimana diajarkan oleh guru atau pimpinan aliran radikal. Hal ini mencakup disiplin dalam berpenampilan, membiasakan menggunakan istilah dari bahasa Arab dalam keseharian, serta sikap yang jelas dalam memandang dunia secara hitam putih antara penyembah thogut dan orang beriman. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ciri kedua ini, karena umumnya umat Islam yang belajar agama dan cukup mengerti ajaran Islam tidak akan menolak pentingnya pemantapan sikap keagamaan. Perbedaan yang mendasar dari aliran radikal adalah manakala sikap keagamaan ini mengeras kepada sikap berlebihan yang memandang diri sendiri paling benar dan yang di luar kelompoknya adalah salah. Sikap merasa paling benar secara berlebihan ini sering tercermin dari mudahnya mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan meskipun sama-sama Muslim,  yang mana lebih dikenal dengan istilah takfiri. Dengan sikap keagamaan yang mengerucut kepada konsep kami benar yang lain salah ini, tidak jarang kemudian menjadi dasar cara pandang terhadap dunia yang seolah-olah sudah sedemkian rusaknya dan mereka merasa wajib memperbaikinya dengan cara mereka. Salah satu cara memperbaikinya tersebut lagi-lagi munculah ide pemaksaan dengan kekerasan yang menjadi metode perjuangannya.
  3. Ciri ketiga adalah adanya kepura-puraan dalam bersikap ketika berada di dalam kelompok dan ketika berada di luar kelompok. Maksudnya mereka yang telah masuk dan meyakini ajaran radikal akan tampak memiliki dua kepribadian. Yakni sangat keras dan sangat bersemangat dalam kegiatan-kegiatan tertutup kelompok, namun ketika berada di tengah-tengah masyarakat tampak biasa saja bahkan sering berpura-pura tidak memperlihatkan sikap kerasnya. Hal itu dilakukan dalam rangka mengelabui masyarakat dan aparat keamanan agar kelompok radikal tersebut tidak terdeteksi. Lebih jauh lagi, pengajian-pengajian kelompok radikal tidak selalu membahas masalah-masalah jihad, melainkan juga membahas masalah umum keagamaan yang biasa. Sehingga untuk dapat tahu persis apakah suatu kelompok radikal atau tidak, harus benar-benar menjadi anggota dan rajin mengikuti pengajian-pengajiannya. 
  4. Ciri keempat adanya struktur bertingkat dalam mencapai kedekatan dengan guru atau pimpinan kelompok radikal. Pengikut kelompok radikal yang masih baru tidak akan segera sadar bahwa ada sekat-sekat yang ketat dalam struktur kelompok radikal yang bertujuan menyeleksi siapa-siapa yang dianggap cukup syarat untuk dapat mengikuti pengajaran yang lebih radikal seperti merakit bom, atau menjadi pengantin bom bunuh diri. Dalam setiap kelompok radikal ada pencari-pecari "bakat" yang mengamat-amati peserta pengajian yang dapat diradikalisasi secara cepat untuk mampu melakukan aksi-aksi yang radikal. Hal ini berbeda dengan kelompok-kelompok aksi massa yang secara beramai-ramai melakukan aksi protes dengan kekerasan. Radikalisasi pelaku bom bunuh diri biasanya menimpa mereka yang telah memiliki potensi suicidal kehampaan dalam hidup, perasaan berdosa yang berat dan berlebihan, putus asa, terdoktrin oleh konsep mati syahid yang dipelintir untuk justifikasi aksi bom bunuh diri. 
  5. Ciri kelima, adalah cara pandang khas tentang dunia Islam dan musuh Islam. Dari cara pandang tersebut dikembangkan konsep-konsep Darul Islam, Darussalam, Darul Tauhid sebagai wilayah dimana ajaran Islam dapat dilaksanakan secara utuh. Kemudian pada wilayah lain ada konsep Darul Harb, Darul Kufr, dan Darul Gharb yang mencerminkan dunia yang tidak Islami. Pembagian dunia dalam dua bagian tersebut menyebabkan lahirnya konsep perang meski faktanya tidak sedang berperang. Yakni ketika suatu negara bangsa tidak menerapkan hukum Islam dan bukan negara Islam, maka di negara tersebut umat Islam berada dalam kondisi "perang", artinya boleh melakukan pembunuhan (teror) kepada masyarakat di negara Darul Harb tersebut. 
  6. Ciri terakhir adalah adanya pembinaan fisik berupa latihan fisik seperti militer yang diiringi dengan berbagai kemampuan dasar militer sampai pada kemampuan khusus seperti merakit bom, dll.
Catatan tambahan untuk nomor 5. Terjadi kekeliruan penerapan konsep Darul Harb dalam menilai Indonesia karena apabila konsisten dengan konsep kenegaraan Khulafaur Rasyidin sampai era Utsmaniyah di Turki, maka Indonesia modern paska kemerdekaan 1945 masuk dalam kategori Darul Ahd (wilayah damai) atau Darul Sulh (wilayah konsiliasi) yakni meskipun Indonesia bukan negara Islam, namun umat Islam dapat berkembang melaksanakan ajaran Islam seutuhnya beribadah dengan tenang serta dapat mengembangkan ajaran Islam tanpa adanya ancaman atau pelarangan dakwah. Pandangan sejumlah ulama radikal seperti Aman Abdurrahman dkk yang menilai Indonesia sebagai Darul Harb yang dipimpin oleh para Thogut jelas keliru, karena faktanya Islam tidak mengalami hambatan baik dalam pelaksanaan ajaran maupun pengembangan dakwahnya.  

Semoga bermanfaat,
Salam Intelijen,
Dharma Bhakti

Labels: , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank